Dua orang bapak duduk terdiam di ruang tamu, entah mengapa kelihatan begitu kaku dan tegang. Segera setelah saya temui, saya salami dan saya sapa mereka. Awal yang terlihat canggung, ternyata hanya sesaat. Kemudian dialog yang terjadi cair dan mengalir begitu saja. Kadang diselingi gelak tawa.... sampai kemudian, dengan mimik serius salah seorang tamu lalu berujar:"Sebenarnya kami sudah lama berencana ingin menemui bapak. Tapi berhubung kesibukan bapak, baru kali ini kami dapat langsung bertemu. Awalnya kami berprasangka kalau ketidaksediaan bapak menemui kami adalah karena bapak ingin menjaga jarak bahkan karena kesombongan sebagai pejabat...".
Ups, saya sepertinya beberapa kali mendengar ucapan serupa itu yang kemudian diralat.... Saya cuma tersenyum, sebab rasanya, tidak ada sebersitpun niat saya untuk seperti itu. Namun memangl saya menyadari, bahwa ada yang salah dalam pola pikir bangsa kita pada umumnya. Orang yang diamanahi jabatan, seolah menjadi orang yang harus dilayani orang banyak...bukan sebaliknya! Sehingga orang justru sering merasa aneh kalau ada pimpinan yang berusaha melayani bawahannya.
Karena ini masalah prinsipil, jadi perlu saya ungkap hal ini secara terbuka. Bahwa saya justru takut kalau suatu saat saya ditanya olehNYA mengapa saya tidak melayani orang banyak yang menjadi tanggungjawab saya dsngan baik dan adil? Saya juga takut kalau saya merasa lebih baik dari orang lain - bahkan cenderung sombong - hanya karena status dan kedudukan. Padahal Allah telah mengajarkan pada kita bahwa yang membedakan kita semua hanyalah derajat ketaqwaannya titik. Cobalah simak kutipan inspiratif di bawah ini, sebab saya ingin kita tidak tertipu oleh kilauan jabatan dan harta di dunia yang hanya semu belaka dan sementara...Lagi pula, bukankah semua yang kita peroleh dan capai sesungguhnya terjadi hanya karena atas ijin dan rahmatNYA?....
Kutipan Inspiratif:
HINDARI UJUB (KESOMBONGAN) DALAM HATI KITA
HINDARI UJUB (KESOMBONGAN) DALAM HATI KITA
Mari kita simak nasihat dan perkataan Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah sebagai berikut :
"Jika Allah mudahkan bagimu mengerjakan sholat malam, maka janganlah memandang rendah orang2 yg tidur."
"Jika Allah mudahkan bagimu melaksanakan puasa, maka janganlah memandang orang2 yg tdk berpuasa dgn tatapan menghinakan."
"Jika Allah memudahkan bagimu pintu utk berjihad, maka janganlah memandang orang2 yg tdk berjihad dgn pandangan meremehkan."
"Jika Allah mudahkan pintu rezeki bagimu, maka janganlah memandang orang2 yg berhutang dan kurang rezekinya dgn pandangan yg mengejek dan mencela. Karena itu adalah titipan Allah yg kelak akan dipertanggungjawabkan."
"Jika Allah mudahkan pemahaman agama bagimu, janganlah meremehkan orang lain yg belum faham agama dgn pandangan hina."
"Jika Allah mudahkan ilmu bagimu, janganlah sombong dan bangga diri karenanya. Sebab Allah lah yg memberimu pemahaman itu."
"Dan boleh jadi orang yg tidak mengerjakan qiyamul lail, puasa (sunnah), tidak berjihad, dan semisalnya lebih dekat kpd Allah darimu."
"Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal... lebih baik bagimu dari pada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau "merasa" bangga dgn amalmu. Tidak layak orang merasa bangga dgn amalnya, karena sesungguhnya ia tdk tahu amal mana yg Allah akan menerimanya.
Semoga hati kita terhindar dari ujub ( kesombongan )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar